Resiko merupakan kata yang sering terdengar dalam pengembangan produk baru. Tidak saja resiko kegagalan teknis, namun juga resiko kegagalan pasar. Kegagalan teknis bisa terjadi karena produk yang dibuat tidak berjalan sesuai dengan fungsinya. Sementara itu, kegagalan pasar terjadi karena produk yang dibuat tidak banyak diminati orang. Karena itu, pengembangan produk baru di perusahaan banyak melibatkan berbagai divisi. Tidak hanya divisi pemasaran saja, tapi juga divisi produksi, keuangan atau divisi lainnya.
Jika diperhatikan, maka proses pengembangan produk yang ada saat ini memperlihatkan bahwa perusahaan merupakan entitas yang paling sentral. Semua proses pengembangan produk baru dikendalikan oleh perusahaan. Konsumen hanya ditempatkan sebagai subyek yang hanya diminta pendapatnya. Disini, konsumen lebih terlihat pasif. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai traditional new product development (NPD) yang berakar dari traditional innovation yang sangat company-centric dan product-centric.
Berbeda dengan traditional innovation, Prahalad dan Ramaswamy (2004) menyebutkan bahwa perusahaan harus bergerak ke experience innovation yang lebih consumer-centric. Konsep tersebut memberikan peluang yang sebesar-besarnya pada konsumen untuk ikut terlibat aktif dalam pengembangan produk baru. Experience innovation merupakan dasar co-creation yang didefinisikan sebagai proses kolaborasi yang kuat antara produsen dan konsumen dalam pengembangan produk baru. Apabila perusahaan menjalankan proses co-creation dengan baik, maka value dari produk yang dihasilkan akan lebih baik dari produk yang dihasilkan melalui traditional NPD.
Jika diperhatikan, maka proses pengembangan produk yang ada saat ini memperlihatkan bahwa perusahaan merupakan entitas yang paling sentral. Semua proses pengembangan produk baru dikendalikan oleh perusahaan. Konsumen hanya ditempatkan sebagai subyek yang hanya diminta pendapatnya. Disini, konsumen lebih terlihat pasif. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai traditional new product development (NPD) yang berakar dari traditional innovation yang sangat company-centric dan product-centric.
Berbeda dengan traditional innovation, Prahalad dan Ramaswamy (2004) menyebutkan bahwa perusahaan harus bergerak ke experience innovation yang lebih consumer-centric. Konsep tersebut memberikan peluang yang sebesar-besarnya pada konsumen untuk ikut terlibat aktif dalam pengembangan produk baru. Experience innovation merupakan dasar co-creation yang didefinisikan sebagai proses kolaborasi yang kuat antara produsen dan konsumen dalam pengembangan produk baru. Apabila perusahaan menjalankan proses co-creation dengan baik, maka value dari produk yang dihasilkan akan lebih baik dari produk yang dihasilkan melalui traditional NPD.
Keterlibatan banyak pihak dalam mengembangkan produk sangat menarik. Selain dapat memangkas biaya penelitian dan pengembangan (R & D), keterlibatan tersebut dapat menambah varian dari produk yang dihasilkan. Karena menyerap beragam masukan, maka penerimaan pasar terhadap produk tersebut akan lebih baik.
Dengan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan terjadinya interaksi antara produsen dan konsumen, maka proses kolaborasi tersebut menjadi semakin mudah. Hal tersebut menyebabkan pasar menjadi horisontal yang mendorong terjadinya perubahan perilaku konsumen. Konsumen sekarang ini memiliki keinginan untuk terlibat dalam proses pengembangan produk baru.
Ada beberapa kasus dimana co-creation tersebut terjadi yang membuahkan hasil yang menggembirakan. Ambil contoh pengembangan Fiat 500. Fiat 500 merupakan kendaraan sedan yang diproduksi oleh perusahaan Italia. Dalam pembuatan produk tersebut, peran konsumen sangat besar. Konsumen terlibat dalam desain. Lima ratus hari sebelum diluncurkan, Fiat mengundang pelanggan potensial untuk ikut mendesain asesoris dan fitur-fitur melalui website yang telah disediakan. Dari website tersebut Fiat mendapatkan 8000 desain asesoris yang kemudian diseleksi menjadi 100 asesoris dan fitur yang menarik buat konsumen. Dengan menerapkan co-creation, Fiat berhasil menjual 57 ribu buah Fiat 500 di bulan pertama pada saat peluncurannya ke pasar.
Tidak hanya Fiat, Nike pun juga menerapkan co-creation. Nike menggunakan website NikeID.com sebagai tempat dimana calon pelanggannya bisa menentukan pilihannya apakah dia memilih sepatu olah raga atau sepatu untuk kegiatan sehari-hari. Pelanggan bisa juga menentukan apakah dia mulai mendesain sepatu dari awal atau hanya sekedar mengganti warna sepatu yang mereka inginkan. Melalui social media network (seperti Facebook atau Myspace) yang Nike buat, pelanggan dapat men-share desain sepatu yang telah dibuat. Dengan melakukan hal tersebut, Nike dapat mempertahankan pelanggan lama dan menarik pelanggan baru, sehingga pertumbuhan produknya semakin tinggi.
Bagaimana dengan perusahaan anda atau perusahaan tempat anda bekerja ? Apakah anda tidak tertarik untuk menerapkan co-creation dalam membuat produk baru ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar